Monday, July 27, 2009

Yasmin Ahmad - If she was a man so?

Sometimes we just cant leave the dead alone kan? We have to talk and talk and talk...and assume which is making an "ass" out of "u" and "me".

I am filled with disgust.

My cousin reminded me of the passing of my mother's brother today. A kind hearted man who died on his way back from Yassinan (groups of men from the kampung mosque or surau would gather to a certain village house that have invited them to recite the quranic verses, to bless those who have passed in the family). My late uncle riding his motorcycle was hit my a passing trailer from the opposite direction and died instantly. His passing was quick without "menyusahkan" orang lain, which is what he is during his lifetime - so I quote my mom.

Yasmin died the same way. Quick and not after a long period of sickness where others have to care for her. The reason for this is because she is a caring person. Dia tak pernah menyusahkan orang lain. When her other countries credited her work and her own did not.

Someone once asked her:
"Kak Min, nak tanya. Jgn marah saya ye. Nak tanya aje. Masa Kak Min arahkan filem, berada di set - ada tak break utk solat? Kak Min solat tak? Dan galakkan anak-anak buah solat tak? Saya wonder aje. Thanks Kak Min"

Where later Kak Min would answer :

Anuar, the answer to that is Yes. we do break for solat. and the reason for our solat break is not because we think we're good or anything, but because we need to seek allah's guidance and thank him for his blessings. we don't force others to solat with us -- they can see what we're doing, and that i think is enough of a reminder.

An ustaz once told me, an incident where he was called upon a drug addict whom had died of AIDS and no one wanted to "uruskan jenazah". He was suprised to find that it was so easy to prepare everything and that the body of the man he bathe did not resembled a man who was a drug addict nor a patient of AIDS. This not only baffled him but also the hospital staff that was attending together. The ustaz said "He must have done something right during his life that Allah swt has forgiven his sins"

I leave this note with another writing from an individual who knows Yasmin. I just wish we should put a stop to all the nonsense about her being this and that. Instead, we should look in the mirror and ask, are WE prepare to meet Allah swt when the time has come.

Aku tahu dari beberapa orang yang kata mereka memang tahu yang Yasmin tu Zulkiflee tapi aku tak pernah ambil pot. Sebab, pada aku siapa pun dia sebelum ni yang dia kikis dari imejnya dan buang jauh-jauh lalu jadi individu bergender baru, aku respect dengan pilihan beliau. Kalau dia mahu jadi Zulkiflee dia takkan tukar diri dia jadi Yasmin. Dia tukar dan lupakan terus sejarah dulu dengan tekad makanya kenapa kita mesti menggali semula apa yang dia sendiri dah tanam jauh ke pusat bumi?

Respek. Itu yang mesti kita buat supaya orang lain juga berbuat benda sama pada kita. Sunan Kalijaga sebelum menjadi wali Allah dan mengganggotai Wali Songo, bukankah dia dulunya seorang maling? Dia manusia jahat, merompak, membunuh. Kemudian dia berubah menjadi wali lalu apakah tak sempurna metamorfosisnya itu kalau salah seorang dari kita tak mengungkitkan dosa beliau makan hasil rompakan waktu dia maling dahulu?

Respeklah dengan pilihan orang lain. Kalau tak kita akan terus melihat Saidina Umar Al-Khattab itu sebagai manusia pongah lagi kejam yang semberono dan ditakuti. Tapi kita kenal dia sebagai Khalifah yang sangat tawadduk dan adil sehingga redha untuk hidup susah walaupun titlenya umpama perdana menteri hari ni.

Respek. Kalau Yasmin mahu dia dikenali sebagai Zulkiflee, Rabun, Sepet, Gubra, Mukhsin, Muallaf dan Talentime itu tentu dikreditkan atas nama Zulkiflee. Tapi dia memilih Yasmin, bukan? Susahkah untuk kita respek?

Walau siapa pun Yasmin dulu aku akan sentiasa kenang dia sebagai Kak Min yang murah dengan senyuman dan baik hati dan suka menolong orang susah dan halus hatinya dari bertindak melukakan hati orang lain. Aku kagum pada manusia Yasmin itu.

Dan pertanyaan aku kepada yang bertanggungjawab memilih topik ni untuk didiskusi, apakah setelah kita tahu Yasmin itu pondan, hidup kita akan bertambah baik? menjadi lebih ceria? dan dilimpahi rezeki yang berlipat ganda? Apakah setelah kita tahu bahawa Yasmin itu khunsa dan telah memilih untuk menjadi wanita maka pemikiran kita pun segera menjadi lebih genius?

Yang aku tahu, jiwa sekuat Yasmin yang dapat aku kenal - bukanlah terhasil dari hidup yang bahagia. Kuat jiwanya itu dek kerana telah habis air mata. Orang ini sangat tahu erti nyeri, erti kesusahan, erti penderitaan sehingga mampu ketawa bila hati sedang berduka. Ya, tak ramai manusia yang mampu mentertawakan keperitan hidupnya. Yang mampu, jika dia seorang karyawan, percayalah, hasil karyanya pasti jauh meninggalkan yang bahagia hidupnya sebagaimana kalian - yang sangat bahagia hidup - sehinggakan sejarah orang lain yang telah dibuang jauh-jauh oleh orang itu kalian kutip kembali dan pamerkan. Untuk? Biar aku teka - merasa seronok. It’s a fun, kan?

Menjadi insan lah kita barang seketika. Respek - dan orang akan respek kita.

from en_w
July 27th, 2009 @ 11:27 am



2 comments:

  1. totally agree with you. tak kisahlah Yasmin/ Zulkiflee, she has done byk bende baik, atleast to her friends coz ramai kwn2 nye menangisi pemergiannya. kita pun tak tahu bila time kita, mcm mana keadaannya...

    ReplyDelete
  2. true dear..
    people will keep asking and wondering and assuming on the dead..

    ReplyDelete

About Me

Farah Rahim is the co founder of the REAL FOOD movement in Malaysia under the local support group called "HOMEMADE - Air Tangan Ibu" as well as an advocate of managing asthma, allergies and eczema naturally via NaturalAAE. She's the official Malaysia's ambasador of Jamie's Food Revolution. When not an activist she's a Stay at Home Mom to 3 girls who loves nothing but good ol' homecooked meals.